CERPEN “Surat Itu”

“SURAT ITU”

Sinta seorang pelajar yang kini tengah duduk di bangku SMA, hari-harinya selalu diisi dengan canda dan tawa bersama teman-temannya. Adapun Rini seorang yang selalu menemani hari-hari Sinta baik di dalam suka maupun duka. Keakraban yang telah terjalin bak seperti kepingan mata uang logam yang bersisi sulit rasanya memisahkan keakraban mereka berdua. Bahagia mereka membuat iri mata yang melihatnya. Apa yang mereka alami selalu mereka ceritakan satu sama lain.

Suatu ketika mereka bermimipi untuk membangun usaha bersama, dan terus melanjutkan persahabatan mereka sampai mereka nanti memiliki keluarga. Rencana-rencana indah itu diukir oleh mereka setiap kali mereka bersama, rajutan kasih yang terjalin bak seperti saudara.

Namun suatu hari kebahagiaan yang telah terajut hancur lenyap dan hilang begitu saja, Rini tiba-tiba saja menghilang dari kehidupan Sinta entah apa sebabnya, Rini seolah menghindar dan menjauhi Sinta jika bertemu di sekolah, kejadian itu bermula pada hari Senin pagi saat upacara sekolah akan berlangsung, Rini menitip topi kepada Sinta untuk dibawakan pada saat sekolah nanti. Namun Sinta lupa untuk membawa topi tersebut sampai akhirnya Rini di hukum oleh gurunya tidak boleh mengikuti upacara. Saat itulah Rini menjadi marah dan sangat marah kepada Sinta, setelah upacara selesai Sinta berusaha untuk meminta maaf kepada Rini.

“Rin maafin aku ya ? aku benar-benar lupa kalau kamu titip topi sama aku, kamu mau kan maafin aku? Pliiis Rin”

Rini hanya diam terpaku dan berlalu pegi meninggalkan Sinta

Begitulah situasi seterusnya sampai mereka pulang sekolah, Rini tetap tidak menghiraukan Sinta, Sinta pun juga berusaha memberikan waktu sejenak kepada Rini untuk meredam emosinya

****

Keesokan harinya Sinta mencoba untuk meminta maaf lagi kepada Rini,mencoba mencairkan suasana dengan bercanda kepada Rini namun sikap Rini tak berubah sedikitpun tetap saja Rini mendiamkan Sinta tanpa sepatah katapun. Sampai beberapa hari berlalu kejadian tersebut tetap tak menunjukkan perubahan, setiap hari Sinta selalu mencoba untuk meminta maaf kepada Rini namun itu hanya kesia-siaan belaka, Sinta pun gerah dengan sikap Rini yang tidak menyambut baik permintaan maaf Sinta hanya karna masalah yang sangat sepele menurut Sinta.

Sampai akhirnya 3 minggu berlalu sudah,kedua sahabat yang kini terlihat tak bersahabat mulai menjalani kehidupannya masing-masing, namun ada sesuatu hal yang ganjal yang membuat Sinta bertanya-tanya dan memikirkan Rini, sudah jampir 5 hari Rini tidak masuk dan tidak memiliki kabar pasti tentang kealfaannya, Sinta mencoba dan berusaha menepis rasa perhatiannya kepada Rini namun semakin di tepis bayangan Rini malah semakin Nampak jelas diingatannya.

Sampai pada akhirnya kegundahan itu terjawab juga, saat itu Sinta yang tengah asyik memanjakan dirinya dirumah mendapat telephone dari seorang yang tidak dikenal.

“Hallo, selamat siang, benarkah ini dengan Sinta ?”

Sinta menjawab “ ya, maaf ini dari siapa ya ?”

“ini saya Pak Herman, papa nya Rini”

“Ohh.. iya om maaf ya saya tidak tahu, ada apa ya Om ?”

“iya ga papa ko, hari ini kamu ga ada acara kan ? nanti kamu dating kerumah ya, ada yang ingin om sampaikan kepadamu”

“oh iya om baiklah nanti saya akan kesana,”

“Terimakasih ya Sin”

“iya om sama-sama”

“selamat siang”

Setelah menerima telephone tersebut Sinta langsung bergegas untuk kerumah Sinta, dalam hati Sinta berfikir bahwa dia akan berbaikan kembali dengan Rini, Sintapun pergi menuju kerumah Sinta dengan perasaan yang sangat gembira.

Namun sesampainya disana ternyata rumah Rini diselmuti dengan suasana duka, Sinta bingung sebenarnya apa yang sedang terjadi, masuklah Sinta dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi, akhirnya Sinta pun mendapatkan jawabannya bahwa Rini kini telah tiada, tersentaklah sinta mendengarnya perasaan kaget dan tak percaya menyelimutinya, dengan bergegas Sinta pun langsung menghampiri jenazah Rini yang telah terbungkus rapi dengan kain kafan dan siap untuk dimakamkan. Air mata Sinta tak dapat dibendung lagi tumpahlah segala penyesalan Sinta karna tidak berada disisinya saat ajal menjemputnya.

Beberapa saat kemudian datanglah papanya Rini dengan membawa sepucuk surat yang tebungkus rapi disertai dengan sebuah kotak music yang cantik.

“Sinta ini titipan Rini untuk kamu sebelum dia pergi, selama dia sakit dia selalu menyebut nama kamu, namun jika om menawarkan untuk menjemputmu dia selalu menolak nya”

“Terimakasih ya om” ujar Sinta sambil berlinang air mata

Dengan mata yang sembab saat itu juga Sinta membaca surat yang diberikan oleh Rini

 

Dear Sinta malaikat kecilku

Maafkan aku yang selama ini berusaha menjauh darimu, tanpa aku bilang padamu aku yakin kau pasti tau bahwa aku merasakan sakit yang sama saat aku jauh darimu seperti halnya sakit yang kau rasa, aku tak ingin melakukan ini padamu sahabatku, namun aku harus melakukannya karena aku ga mau kamu terbebani dengan derita yang aku alami, aku ingin melepasmu perlahan dari diriku karna aku tau dalam waktu yang tak lama lagi aku akan meninggalkanmu aku telah di vonis oleh dokter mengidap penyakit kanker otak stadium 4 sejak itu aku tau bahwa hidupku tidak akan bertahan lama.

Untuk itu sengaja aku menuliskan surat ini untukmu agar saatnya nanti aku tiada aku dapat bernapas lega karna telah mendapat maaf darimu atas sikap egoisku. Sinta aku begitu menyayangimu seperti halnya aku menyayangi diriku sendiri, aku ingin kamu tetap tersenyum, ikhlaskan kepergian ku karna aku akan bahagia jika melhatmua tersenyum sahabatku.

Kutiipkan box music ini untukmu,umtuk menghiburmu dalam kesendirianmua, seperti hanya kotak music itu menghiburku saat aku sedang mengalami sakit yang teramat sakit. Jaga barang itu selalu ya seperti halnya kamu menjaga aku, dengarkan music itu jika kau merindukan aku.

Sekali lagi aku ingin ucapkan maaf beribu maaf kepadamu Sinta, dan ingin aku katakana bahwa aku akan terus menyayangimu.

Sahabatmu

RINI

Setelah membaca surat itu air mata Sinta semakin tak dapat terbendung lagi semakin deras bahkan, namun dibelik derasnya air mata itu terselip kebahagiaan yang Sinta dapatkan bahwa ternyata Rini begitu menyayanginya. Sejak saat itu Sinta berusaha mengikhlaskan kepergian Rini dan berjanji akan selalu menjaga keabadian persahabatannya meski dipisahkan oleh kehidupan yang berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s