Resensi Novel “Salam dari Farsha”

• Judul : Salam dari Farsha
• Pengarang : Nurul Maulidia (Ruru)
• Penerbit : PT. Tunas Melati
• Tahun Terbit : 2007
• Tempat Terbit : Jakarta
• Tebal : 128 Halaman
• Ilustrasi Buku : gambar seorang perempuan dengan rambut berwarna orange, baju berwarna hijau tosca, putih, dengan rompi berwarna hijau keabu-abuan; Warna dasar biru dan merah muda dan terdapat bunga-bunga kecil berbagai warna; dengan tulisan warna ungu dan biru.

Novel ini diawali dengan seorang gadis, bernama Vanya, yang mengantarkan ayahnya check-up ke rumah sakit. Di sana, ia melihat seorang remaja lain, berusia sekitar 17 tahun sedang sibuk bersembunyi, disusul oleh gemparnya seisi rumah sakit karena hilangnya seorang pasien. Saat itu Vanya merasa tidak ingin terlibat dengan sesuatu hal yang tidak penting baginya, maka ia tidak mempedulikan keributan itu.

Ketika Vanya dan ayahnya memutuskan untuk pulang, mereka menemukan orang asing yang berada di dalam mobil mereka. Ternyata orang asing itu adalah remaja yang Vanya lihat sibuk bersembunyi ketika di rumah sakit tadi. Orang asing itu bernama Farsha. Ia melarikan diri dari rumah sakit karena tidak ingin menjalani pembedahan untuk penyakit jantung yang dideritanya. Farsha merasa alergi dengan pembedahan, terlebih lagi setelah ia kehilangan kedua orang tuanya.

Persembunyian Farsha dalam mobil Vanya itu membawanya ke rumah Vanya dan tinggal bersama keluarga yang harmonis itu. Vanya yang semula merasa tidak suka dengan kehadiran Farsha, yang secara tidak langsung menjadi kakak laki-laki angkatnya, lama kelamaan dapat menerimanya dan interaksi yang baik pun terjalin di antara mereka. Meski mereka dapat dikatakan sebagai adik-kakak, namun Vanya dikejutkan oleh sikap Farsha yang ternyata menjaga hijab dalam setiap interaksi di antara mereka.

Dalam beberapa kesempatan, Farsha mencoba mendiskusikan mengenai jilbab bersama Vanya. Akan tetapi dalam setiap kesempatan itu pula Vanya menyatakan bahwa ia masih keberatan untuk mengenakan jilbab. Ketika ada sebuah kegiatan hari besar keagamaan di sekolah, Vanya mencoba mengenakan jilbab. Saat itu Farsha memberikan pujian dan menunjukkan rasa bangga, meskipun Vanya hanya mengenakan jilbabnya pada satu hari itu saja.

Pada suatu waktu, keluarga Vanya disibukkan untuk mempersiapkan acara ulang tahun Vanya yang ke-17. Semula orang tua Vanya tidak mengijinkan penggunaan alat-alat pengeras suara, mengingat penyakit jantung yang diderita oleh Farsha. Hal ini sempat membuat Vanya jengkel. Ia merasa ini adalah acara miliknya dan tidak seharusnya orang-orang terdekatnya justru lebih memperhatikan keadaan Farsha. Namun akhirnya Vanya belajar untuk memahami dan menyetujui hal itu. Namun ketika di peertengahan acara, sesuatu hal buruk terjadi.

Farsha pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Hal ini membuat Vanya semakin kesal karena merasa Farsha telah menculik orang tuanya di hari berharganya.

Keputusan dari dokter rumah sakit itu menyatakan bahwa Farsha harus dioperasi. Kabar ini sampai ke telinga Vanya dan membuatnya tidak punya alasan untuk marah lebih lama lagi terhadap Farsha. Vanya pun datang ke rumah sakit setelah memantapkan hatinya untuk mengenakan jilbab sebagai penghias kepalanya. Jilbab yang pertama kali dikenakan oleh Vanya adalah jilbab yang diberikan Farsha sebagai kado di hari ulang tahunnya. Farsha merasa amat bangga dan senang melihat adik angkatnya mulai mengenakan jilbab. Tapi di antara mereka tidak ada yang menyangka bahwa pertemuan itu adalah pertemuan terakhir karena Farsha meninggal dunia setelah operasi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s